Minggu, 02 Juni 2013

Makalah Quantum Teaching

MODEL PEMBELAJARAN QUANTUM
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Istilah quantum, pada awalnya hanya digunakan oleh pakar fisika modern menjelang abad 20, kemudian berkembang secara luas merambat ke bidang-bidang kehidupan manusia lainnya. Dalam bidang pendidikan, muncul konsep belajar quantum yang berupaya untuk meningkatkan proses pembelajaran, baik yang bersifat individual maupun kelompok. Saat ini, mulai dirasakan bahwa kehidupan individu dan organisasi, bisnis atau social, sedang menghadapi tantangan global, yakni perubahan besar-besaran dalam music seluruh aspek, misal sekolah.
Setiap pendididkan selalu berurusan dengan manusia, karena hanya manusia yang dapat dididik dan harus selalu dididik. Manusia adalah satu-satunya makhluk yang dikaruniai potensi untuk selalau menyempurnakan diri melalui proses belajar. Tentu sangat logis bagi manusia untuk memilih jalur pendidikan untuk meningkatkan potensi belajarnya. Kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh guru berpangkal pada suatu kurikulum, dan dalam proses pembelajaran guru juga berorientasi pada tujuan kurikulum, pada suatu sisi guru adalah pengembang kurikulum, sedangkan pada sisi lainnya guru adalah pembelajar siswayang secara aktif membelajarkan siswa sesuai dengan kurikulum sekolah.
Pada hakekatnya, mengajar itu adalah suatu proses dimana pengajar dan murid menciptakan lingkungan yang baik, agar terjadi kegiatan belajar yang bsrdaya guna,. Untuk mengatasi problematika dalam pelaksanaan pembelajaran,tentu diperlukan model-model mengajar. Model menjajar adalah suatu deskripsi dari lingkungan belajar yang menggambarkan perencanaan kurikulum, kursus-kursus, desain unit-unit pelajaran dan pembelajaran, perlengkapan belajar, pelajaran, bulu-buku kerja, program multimedia, dan bantuan belajar melalui program computer.
Ada banyak model pembelajaran yang dapat memudahkan guru melaksanakan tugas utama sebagai agen pembelajaran. Salah satu model pembelajaran yang terkenal adalah model pembelajaran kuantum. Quantu Teaching menguraikan cara-cara baru yang memudahkan proses pembelajaran lewat pemaduan unsur seni dan pencapaian-pencapaian yang terarah, apapun mata pelajaran yang diajarkan, Quantum Teaching merupakan belajar yang meriah dengan segala nuansanya yang menyertakan segala interaksi dan perbedaan yang memaksimalkan momen belajar dan berfokus pada hubungan dinamis dalam lingkungan kelas.[1]
Secara sederhana, pembelajaran kuantum dapat diartikan sebagai pembelajaran yang mengorkestrasikan berbagai interaksi menjadi cahaya yang melejitkan prestasi siswa, dengan menyingkirkan hambatan belajar melalui penggunaan cara dan alat yang tepat, sehingga siswa dapat belajar secara mudah dan alami.
Jika sejenak membayangan kelas, ruang kuliah ataupun ruang tempat siswa siswa belajar dan kemudian didalamnya terdengar suara dengungan para siswa yang tertarik dan memperhatikan guru saat menerangkan pokok pelajaran, tangan-tangan teracung dengan antusias, tubuh-tubuh condong kedepan penuh rasa ingin tahu dan gemuruh sukaria penuh dengan perayaan. Maka akan ada rasa keriangan berbagi wawasan dan kehangatan saling tukar perkataan yang menyemangati para siswa. Keadan ini adalah meupakan efek yang muncul dari pemakaian Quantum Teaching.

B. Rumusan Masalah
Sebelum membahas lebih lanjut, maka perlu adanya rumusan masalah sebagai berikut :
1.   Apakah model Pembelajaran Quantum itu ?
2.   Komponen-komponen apa saja yang ada di dalam model Pembelajaran Quantum ?




BAB II
PEMBAHASAN
A.  Definisi  Pembelajaran Quantum
Istilah “Pembelajaran Kuantum” diadopsi dari istilah Inggris “Quantum Teaching”. “Quantum Teaching” merupakan badan ilmu pengetahuan dan metodologi yang digunakan dalam rancangan, penyajian, dan fasilitasi di SuperCamp, sebuah program percepatan belajar (accelerated learning) yang mempraktikkan metode belajar kuantum (Quantum Learning).
Sedangkan secara umum Quantum Teaching adalah sebuah metode dan proses pembelajaran di dalam kelas yang mengoptimalkan interaksi berbagai unsur yang ada pada siswa dan lingkungan belajarnya. Dalam interaksi ini berbagai unsur belajar yang efektif dilibatkan (antusiasme dan semangat belajar siswa). Hasil interaksi ini di harapkan dapat mengubah dan melejitkan kemampuan dan bakat siswa. Kemampuan dan bakat ini pada ahirnya akan menjadi prestasi dan hasil belajar yang bermanfaat bagi mereka sendiri dan orang lain. Jadi berbagai sumber yang di interaksikan ibarat sebagai energi dan kompetensi siswa yang meningkat pesan disimbolkan sebagai cahaya yang dihasilkan dari interaksi tersebut.[2]
Quantum Teaching adalah pengajaran yang menumbuhkan suasana kebersamaan, menciptakan kenyamanan dan ketenangan dalam belajar, serta memberikan penyadaran kepada peserta didik terhadap proses yang sedang dijalani. Dari segi konsepnya Quantum Teaching merupakan dialektika teori-teori belajar dan teori psikologi yang menciptakan sebuah paradigma baru yang inklusif mengenai pembelajaran. Bila metode ini diterapkan maka guru akan lebih mencintai dan lebih berhasil dalam memberikan materi serta lebih dicintai anak didik karena guru mengoptimalkan berbagai metode.[3]

B.  Landasan Filosofi dan Teoritis Pembelajaran Quantum
Beberapa teori dan asumsi filosofis yang menjadi landasan dan sekaligus melatar belakangi lahirnya metode quantum learning adalah bahwasanya quantum learning diciptakan berdasarkan teori-teori pendidikan seperti accelerated (Lozanov), Multiple intelelligences (Gardner), Neuro linguistic inquiry programming (Grinder dan Bandler), experential learning (Hahn).[4]
Menurut Agustiranita Quantum Tearning merangkai berbagai teori-teori tersebut dengan baik menjadi sebuah paket multisensori, multi kecerdasan dan komptibel dengan cara kerja otak yang mampu meningkatkan kemampuan dan kecepatan belajar. Pada ahirnya juga akan melejitkan kemampuan siswa untuk berprestasi.[5]  
Uraian singkat tentang teori-teori di atas adalah sebagai berikut :
1.    Accelerated Learning
Merupakan model pembeljaran yang mendorong siswa untuk lebih cepat, lebih efektif, dan lebih menyenangkan. Dengan model ini materi pembelajaran menjadi lebih bermakna dan daya ingat peserta didik menjadi lebih kuat. Accelerated Learning menggabungkan penggunaan musik, seni dan warna sebagai fokus lingkungan fisik, suasana emosional dan pembahasan. Dalam hal ini juga ditekankan pada pentingnya kepercayaan yang tinggi pada kemampuan siswa dan inti pengajaran tampak dari model teladan. Guru adalah teladan prilaku untuk menjamin kesuksesan siswa.[6]
2.    Multiple intelegences
Multiple intelegences atau kecerdasan majemuk adalah teori yang menyatakan bahwa setiap anak memiliki kecerdasan yang beragam. Menurut Gardner kecerdasan majemuk menggambarkan beragam kecerdasan otak meliputi spatial-visual, linguistic-verbal, interpersonal, musical rhythmicnaturalist, bodily kinesthesic, logical mathematic. Seorang individu memiliki kecerdasan ini, tetapi denga derajat yang beragam. Jadi, tiap orang mungkin memilki satu kecerdasan dominan dan kecerdasan sekunder yang digunakan dalam menyerap dan mengingat dalam proses pembelajaran.[7]  
3.    Neuro Linguistic Programming
Secara bebas Neuro Linguistic Programming (NLP) dapat diterjemahkan sebagai pemograman bahasa untuk menggerakkan alam bawah sadar. Dalam teori ini dijelaskan bahwa cara otak mengorganisasikan informasi dan menunjukan bagaimana individu-individu dapat membuat strategi untuk perubahan yang lama. NLP adalah konsep tentang bahasa positif dan efek bahasa dalam lingkungan pembelajaran. Dalam bidang pendidikan dan pembelajaran, NLP bermanfaat bagi guru maupun siswa. Pengajaran yang baik adalah dengan memberikan peserta didik pengalaman terlebih dahulu, kemudian baru memberikan label untuk pemahaman yang lebih komprehensip.[8]
4.    Cooperative Learning
Maksudnya adalah pembelajaran kerja sama yang di mulai dengan instruksi kepada siswa untuk membentuk kelompok kecil. Siswa kemudian bekerjasama dengan anggota kelompok lainya untuk memaksimalkan kelompoknya dan masing-masing dalam memahami bahan ajar. Dalam hal ini terbentuk suasana saling ketergantungan yang positif antar siswa dalam mencapai tujuan pembelajaran. Siswa di dorong untuk memahami dan menyadari bahwa ia akan berhasil mencapao tujuan bila rekan siswa yang lain juga berhasil mencapai tujuan.
5.    Element op Effective insruction
Di kembangkan sejak tahun 1980 oleh Madeline Hunger. Dengan melakukan penelitian terhadap ratusan guru unggul, Hunger sampai pada suatu kesimpulan bahwa di dalam pembelajaran di perlukan beberapa unsur umum untuk mengefektifkan instruksi praktis. Di antara unsur paling penting anticipatory cet, tujuan dan maksud, input, petunjuk latihan, dan latihan bebas. Sebagai tambahan, teori motivasi dan teori transfer melengkapi pendidik dengan model untuk mengembangkan ketertarikan siswa menjadi terpadu dan kuat.[9]
6.    Teori Modalitas Belajar
Untuk menerapkan metode quantum guru harus mengenal apa yang di sebut sebagai modalitas belajar siswa (visual, auditorial, dan kinestetik) dan merusaha menyesuaikan diri dengan modalitas tersebut.secara umum uraian tentang modalitas dimaksud adalah sebagai berikut :[10]
a.    Visual, adalah modalitas belajar siswa yang mengakses citra visual, baik yang diciptakan maupun yang di ingat. Warna, hubungan, ruang, potret mental, dan gambar menonjol dalam modalitas ini
b.    Auditorial, adalah modalitas belajar siswa yang mengakses segala jenis bunyi dan kata yang diciptakan maupun yang di ingat. Musik, nada, irama, rima, dialog internal, dan sarana.
c.    Kinestetik, adalah modalitas belajar siswa yang mengakses segala macam jenis gerak dan emosi yang diciptakan atau diingat. Gerakan, koordinasi, irama, tanggapan emosional, dan kenyamanan fisik.

C.  Prinsip-prinsip Pembelajaran Quantum
Asas utama pembelajaran kuantum adalah Bawalah Dunia Mereka ke Dunia Kita, dan Antarkan Dunia Kita ke Dunia Mereka. Konsep “Bawalah Dunia Mereka ke Dunia Kita, dan Antarkan Dunia Kita ke Dunia Mereka” mengandung konsekuensi bahwa langkah pertama yang harus dilakukan guru dalam pelaksanaan pembelajaran adalah membangun jembatan autentik memasuki kehidupan siswa, untuk mendapatkan hak mengajar dari mereka.[11]
Caranya yaitu dengan mengaitkan apa yang diajarkan guru dengan peristiwa, pikiran atau perasaan yang diperoleh dari kehidupan rumah, sosial, atletik, musik, seni, rekreasi atau akademik siswa. Setelah kaitan terbentuk, guru dapat menerapkan konsep “Bawalah Dunia Mereka ke Dunia Kita”. Dalam konteks inilah materi pelajaran dibeberkan: kosa kata baru, model mental, rumus, dan lain-lain.
Dapt disimpulkan Pembelajaran kuantum menggunakan prinsip-prinsip yang terdiri dari lima macam, yaitu: (1) Segalanya Berbicara, (2) Segalanya Bertujuan, (3) Pengalaman Sebelum Pemberian Nama, (4) Akui Setiap Usaha, dan (5) Jika Layak Dipelajari, Maka Layak Pula Dirayakan.[12]
1.      Segalanya Berbicara.
Prinsip Segalanya Berbicara mengandung pengertian bahwa segala sesuatu di ruang kelas “berbicara”—mengirim pesan tentang belajar. Dari lingkungan kelas hingga bahasa tubuh guru, dari kertas yang dibagikan hingga rancangan pelajaran. Setiap detail mengabarkan sesuatu—tentang diri dan sikap guru terhadap hal mengajar dan belajar. Sebab itu dalam proses pembelajaran, guru wajib menggubah kelas menjadi “komunitas belajar”—masyarakat mini yang setiap detailnya telah digubah secara saksama untuk mendukung belajar optimal—dari cara mengatur bangku, menentukan kebijakan kelas, hingga cara merancang pengajaran.
2.      Segalanya Bertujuan.
Segalanya Bertujuan berarti bahwa semua upaya yang dilakukan guru dalam menggubah kelas mempunyai tujuan, yaitu agar siswa dapat belajar secara optimal untuk mencapai prestasi yang tertinggi.
3.      Pengalaman Sebelum Pemberian Nama.
Proses belajar paling baik terjadi ketika siswa telah mengalami informasi sebelum mereka memperoleh nama untuk hal-hal yang mereka pelajari. Pengalaman menciptakan ikatan emosional dan peluang untuk penamaan. Pengalaman juga menciptakan pertanyaan mental, seperti: Apa?, Mengapa?, Bagaimana?. Jelasnya, pengalaman membangun keingintahuan siswa, menciptakan petanyaan dalam benak mereka, membuat mereka penasaran. Jadi, sebelum menyajikan materi pelajaran, guru perlu terlebih dahulu memberi kesempatan kepada siswa untuk mengalami atau mempraktikkan sendiri.
4.      Akui Setiap Usaha.
Belajar mengandung resiko. Belajar berarti melangkah keluar dari kenyamanan. Ketika siswa telah mengambil langkah ini, mereka patut diberi pengakuan atas kecakapan dan kepercayaan diri mereka. Prinsip Akui Setiap Usaha mengandung konsekuensi bahwa dalam pembelajaran, guru harus mengakui setiap usaha siswa, baik usaha yang sudah tepat atau yang belum. Perlu dipahami bahwa dalam pembelajaran kuantum tidak dikenal istilah “gagal”. Yang ada hanyalah hasil dan umpan balik. Setiap hasil adalah prestasi, dan masing-masing akan menjadi umpan balik demi pencapaian hasil yang tepat sebagaimana dimaksudkan.
5.      Jika Layak Dipelajari, Maka Layak Pula Dirayakan.
Perayaan merupakan sarapan bagi pelajar juara. Perayaan memberikan umpan balik mengenai kemajuan dan meningkatkan asosiasi emosi positif dengan belajar. Mengadakan perayaan bagi siswa akan mendorong mereka memperkuat rasa tanggung jawab dan mengawali proses belajar mereka sendiri. Perayaan juga akan mengajarkan kepada siswa mengenai motivasi hakiki tanpa “insentif”. Siswa akan menanti kegiatan belajar, sehingga pendidikan mereka lebih dari sekadar mencapai nilai tertentu.
Dalam proses pembelajaran, guru dan siswa perlu sering-sering merayakan kesuksesan belajar, dan menghubungkan belajar dengan perayaan. Bentuk perayaan, misalnya: tepuk tangan, tiga kali hore, jentikan jari, kejutan, dan lain-lain.

D.  Metodel-metode dalam Model Pembelajaran Quantum Teaching
1.      Metode TANDUR
Agar proses pembelajarn dengan model quantum teaching ini dapat benar-benar sedinamis mungkin. Maka, perlu melalui tahap- tahapan di bawah ini yang sering dikenal sebagai kerangka rancangan quantum teaching TANDUR yaitu :
a.       Tahap pertama: Tumbuhkan
Pada langkah ini guru harus menumbuhkan motivasi dan semangat belajar siswa. Dan memberi tahu siswa bahwa merekalah yang bertanggung jawab atas pendidikan mereka sendiri, mengaitkan pelajarn dengan masa depan dan berguna dalam dunia nyata. Sehingga mereka tahu apa manfaat dari apa yang sdang mereka pelajari bagi diri mereka biasannya dikenal dengan AMBAK (Apa Manfaatnya Bagiku).
b.      Tahap Kedua : Alami
Guru memberika pengalamn kepada siswa dan memanfaatkan hasrat alami otak untuk menjelajah. Karena pengalaman membangun keingintahuan siswa dan dapat menciptakn beberaap pertanyaan dalam benak mereka. Saaat pengalaman terbentang, guru mengumpulkan inforamasi untuk memaknai pengalamn tersebut. Inforamsi ini membuat yang abstrak menjadi konkrit.
c.       Tahap Ketiga : Namai
Setelah membuat siswapenasaran, penuh pertanyaan mengenai pengalaman mereka, maka penamaan dapat memuaskan keingintahuan siswa. Penamaan memuaskan hasrat alami otak untuk memberikan identitas, mengurutkan, dan mendefinisikan. Penamaan merupakan informasi, fakta, rumus, pemikiran, tempat dan sebagainya. Guru menyediakn kata kunci, konsep, model, rumus, strategi dan sebuah masukan.
d.      Tahap Keempat : Demonstrasi
Guru diharapkan dapat memberikan kesempatan kepada siswa untukmenunjukkan bahwa mereka tahu. Guru memberikan peluang untuk menerjemahkan dan menerapkan pengetahuan mereka ke dalam pembelajaran yang lain dank e dalam kehidupan mereka serta mampu mempergakan tingkat kecakapan mereka dengan pengetahuan ynag baru saja mereka miliki.
e.       Tahap Kelima : Ulangi
Siswa diberi kesempatan untuk mengajarkan pengetahuan baru mereka kepada orang lain. Tentunya, dengan menggunaka cara yang berbeda dari asalnya. Pengulangan memperkuat koneksi saraf dan menumbuhkan rasa “aku tahu bahwa aku tahu ini”. Dan tentunya menunjukan pelajar cara-cara mengulang materi yang telah dibahas.
f.       Ahap Keenam: Rayakan
Pada langkah terakhir ini, saatnya untuk memberikan penghormatan atas usaha, keberhasilan dan ketekunan yang dilakukan dengan perayaan. Hal ini akan memperkuat kesuksesan dan memberi motivasi siswa. Perayaan disini dapat dilakukan dengan memberikan pujian, bernyanyi, bermain tepuk, pesta kelas dll.
2.      Metode AMBAK
a.       A : Apa yang dipelajari
Guru hanya menetapkan apa saja yang akan dipelajari, anak didiklah yang menetukan tema sesuai minat masing-masing. Sebagai contoh pada pelajaran menggambar, guru hanya menentukan pelajaran menggambar dan para anak didiklah yang menentukan tema gambar yang akan di buatnya.
b.      M : Manfaat
Guru memberikan penjelasan tentang apa manfaat yang diperoleh dari setiap pelajaran.
c.       BAK : Bagiku
Bagiku artinya metode yang terkait dengan penjelasan guru kepada siswa tentang apa manfaat yang diperoleh siswa di masa yang akan datang setelah mempelajari bahan yang akan di ajarkan guru.
            Metode AMBAK adalah cara mengawali kegiatan pembelajaran dengan terlebih dahulu memberikan penjelasan tentang apa yang akan dipelajari dan memberikan pemahaman dan penyadaran kepada siswa tentang manfaat besar yang akan didapat siswa.

E. Prosedur dan Strategi Aplikasi Quantum Teaching
            Dari segi pelaksanaanya model pembelajaran ini hampir sama dengan sebuah simfoni yang mengacu pada kedua kategori, ayaitu konteks dan isi. Konteks terdiri dari suasana lingkungan yang akrab, keseimbangan dalam kerjasama, serat rancangan. Adapun isi terkait dengan fasilitas pendidik terhadap pembelajaran, pemanfaatan bakat dan potensi perangkat alat-alat belajar.[13]  
            Pelaksanaan atau praktik pembelajaran Quantum, di kelas mengikuti tahapan-tahapan sebagai berikut :[14]
a.       Menata ruang kelas Pembelajaran Quantum
1.      Menciptakan suasana yang memberdayakan.
2.      Menciptakan landasan yang kukuh.
3.      Menciptakan lingkungan yang mendukung.
4.      Menciptakan rancangan pengajaran yang dinamis.
5.      Menyiapkan sarana dan berbagai metode dan bentuk kegiatan pembelajaran
b.      Menata penyampaian materi pelajaran.
1.      Mengorkestrasika prensentasi belajar (memunculkan kesan saat berkomuikasi, mengarahkan fokus, inklusif, dan spesifik).
2.      Mengorkestrasikan fasilitas yang elegan
a)      Menggunakan prinsip Know, Explain, Get
b)      Mempengaruhi prilaku siswa melalui tindakan
c)      Menciptakan strategi berpikir
d)     Tanya jawab dalam belajar
3.      Mengorkestrasikan keterampilan belajar.



BAB III
KESIMULAN
A. Kesimpulan
              Dari makalah yang telah dibahas di atas dapat disimpulkan bahwa
1.  Quantum Teaching adalah penggubahan belajar yang meriah dengan segala nuansanya yang menyertakan segala kaitan interaksi dan perbedaan yang memaksimalkan momen belajar yang berfokus pada hubungan dinamis dalam lingkungan kelas.
2. Kerangka Rancangan Belajar Quantum Teaching dikenal sebagai TANDUR ( Tumbuhkan, Alami, Namai, Demontrasikan, Ulangi, Rayakan) dan juga Metode AMBAK (A : Apa yang dipelajari, M : Manfaat, BAK : Bagiku).
3. Pelaksanaan atau praktik pembelajaran Quantum, di kelas mengikuti tahapan-tahapan sebagai berikut :
1.      Menata ruang kelas Pembelajaran Quantum
a.       Menciptakan suasana yang memberdayakan.
b.      Menciptakan landasan yang kukuh.
c.       Menciptakan lingkungan yang mendukung.
d.      Menciptakan rancangan pengajaran yang dinamis.
e.       Menyiapkan sarana dan berbagai metode dan bentuk kegiatan pembelajaran
2.      Menata penyampaian materi pelajaran.
a.       Mengorkestrasika prensentasi belajar (memunculkan kesan saat berkomuikasi, mengarahkan fokus, inklusif, dan spesifik).
b.      Mengorkestrasikan fasilitas yang elegan
c.       Menggunakan prinsip Know, Explain, Get
d.      Mempengaruhi prilaku siswa melalui tindakan
e.       Menciptakan strategi berpikir
f.       Tanya jawab dalam belajar
g.      Mengorkestrasikan keterampilan belajar.



Daftar Pustaka
Agustinarita, Penerapan Model Pembelajaran Quantum Teaching di SDIT Izzudin Palembang, (Palembang : Tesis Program Pascasarjana, 2008)
 DePorter Dkk, Quantum Teaching, Memepraktekkan Quantum Learning di Ruang-ruang Kelas (Bandung : PT. Mizan Pustaka, 2005)
Ismail, Model dan Metode Pembelajaran Modern: suatu pengantar (Palembang : Tunas Gemilang Press, 2011)
Jalaluddin, Quantum Taching dan Quantum Learning : si kembat siam dalam sistem Pembelajaran  Modern, makalah dalam Seminar Pendidikan di Program Pascasarjana IAIN RF Palembang, 2006
Nasih, Metode Quantum Teaching Dalam Pembelajaran PAI di Sekolah Umum, (dalam ta’dib, 2008)
Nggermanto, Quantum Quotient : Kecerdasan Quantum, (Bandung : Nuansa, 2003)